5 Tempat Makan Favorit ala The Foochie Food #7

Setiap orang tentu memiliki selera masing-masing dalam memilih tempat makan. Ada yang lebih suka dengan resto iconic yang tempat dan plating makanannya tuh instagramable. Ada juga yang lebih suka dengan warung pinggiran jalan yang nggak perlu khawatir kantong menipis dengan pesan kopi hangat berkali-kali. Banyak macamnya.

Untuk gue pribadi, gue nggak terlalu masalah sih tempatnya dimana, karena gue itu justru lebih picky dengan keselarasan antara rasa makanan dengan harga. Kasarnya mah gamau rugi, bayar seporsi 50rb ya kualitas harus 50rb *ketara banget meditnya ya* ya karena gue missqueen, jadi gue harus tau makanan jenis apa yang akan gue makan dengan mengorbankan sekian persen rupiah gue nanti. Biar nggak sia-sia. Itu sih poin paling pentingnya gue. Poin lainnya adalah kondisi tempatnya bersih, tidak terlalu ramai tapi tidak terlalu sepi juga, no smoking area, dan toiletnya bersih.

Nah, apakah kelima tempat makan favorit gue mencakup keseluruhan poin? tentu tidak, Ferguso. Mari kita cek;

1.Raa Cha Suki & BBQ

Ini adalah salah satu Thai resto di Indonesia yang konsep pelayanannya self-service. Kita ambil menu makanan sendiri, dan kita juga yang masak makanannya. Menunya tentu banyak macamnya, tapi yang jelas terdiri dari sayuran, suki, dan daging BBQ. Mereka menyediakan dua jenis kuah yang bebas bisa kita pilih sesuka hati; tomyam dan miso. Fyi, kuah misonya juara banget sih. Kuahnya bersih banget, dan asinnya pas di lidah gue. Setiap gue ke Raa Cha gue selalu pilih miso sih. Tomyamnya terlalu asin dan menohok di tenggorokan menurut gue. Nah, kalau untuk sayuran dan dagingnya gue suka semuanya sih, haha. Oh iya untuk harga, menurut gue standar. Masih yang ‘waras’ dan sebandinglah ya sama makanannya. Saran gue kalau mau makan disini jangan sendirian, ajak temen deh at least berdua lah biar bisa cobain banyak menu dan pastinya patungan hahaha.

Nah untuk tempat, ini beda-beda sih ya. Jadi gini, Raa cha yang udah pernah gue kunjungi itu yang di Summarecon Mall Bekasi (SMB) dan Transmart Cempaka Putih, dan gue prefer Transmart Cempaka Putih karena lebih tertata rapi. Mereka memisahkan tempat pengambilan menu, kasir, dan tempat makannya, yang jadinya nggak bikin customer umpel-umpelan gitu. Unfortunately di SMB semua jadi satu, jadi ya tentu saja umpel-umpelan karena resto ini selalu rame pengunjung. Ah iya, ada satu saran lagi, karena disini masak/BBQ-an sendiri, otomatis baju pasti bakal bau asap, maka saran gue adalah keliling mall dulu baru makan, jadi setelah makan bisa langsung pulang. Atau bawa parfum.

2. Foodcourt Mall Kelapa Gading (MKG)

Yang namanya foodcourt sudah pasti tidak dilayani 100%, lagi-lagi self-service. Pelayanan yang kita dapat hanya sebatas dimasakin aja. Selebihnya usaha sendiri. Pesen makanan harus samperin counter-nya, makanan pun kita sendiri yang bawa ke meja, dan tentunya tools makan yang habis kita gunakan harus kita sendiri yang taruh di tray piring kotor (fyi, sayangnya poin terakhir nggak berlaku di semua foodcourt Indonesia, tapi di MKG dia berlaku, that’s why gue seneng makan disini).

Nah, yang gue suka dari foodcourt ini adalah pilihan makanannya buanyak. Dari yang low price sampai high ada. Dari yang western food sampai Indonesian Food ada. Dari yang healthy food sampai junk food ada. Terus bersih, luas, ac-nya berasa jadi nggak bikin bau, deket dari musholla yang Alhamdulillah bersih dan poin plus lainnya adalah mushollanya pisah antar ikhwan-akhwat.

3. Warung Pasta Kemang

Wah kalau ini cita rasa makanannya sendiri yang juara sih. Ditambah dengan harga yang super worthy, tentu gue masukin dia ke dalam list. Sesuai namanya ya, udah pasti dia jual pasta. Disini pilihan pasta dan how to cook-nya dipisah. Jadi semua jenis pasta yang tersedia disana bisa dimasak dengan resep yang sama. Selain pasta mereka juga sedia pizza dan nasi. Gue belum pernah coba pizzanya sih, baru nasinya aja yang gue suka banget. Waktu itu gue cobain nasi panggang bumbu hainan khas Singapur yang diberi ayam asap dan jamur, and that was delishus! i’m telling u.

Pelayanannya oke banget, yang paling gue suka, mereka selalu ngasih tau berapa lama perkiraan makanan kita akan siap. Untuk menu pasta biasanya nggak lama sih, kisaran 5-6 menit, untuk nasi yang dipanggang kaya yang gue pesen itu lumayan agak lama, kisaran 15 menit. Tapi karena mereka udah ngasih tau, jadi kita nggak bisa ngeluh dan kalau makannya nggak sendirian sih nggak bakal kerasa juga lamanya.

Disana tersedia wifi juga yang koneksinya lumayan kenceng, ada colokan untuk nge-charge hape di beberapa sudut, dan sedia smoking-no smoking area.

4. Bakso So’un & Mie Ayam “TTD 47”, Tebet, Jaksel

Adalah salah satu bakso ter-enak yang pernah gue cobain di Jakarta. Dagingnya itu berasa banget, gurih, nggak terlalu asin, dan sambelnya top sih pedesnya terasa. Uniknya, disini sambel untuk bakso dan sambel untuk mie ayam dibedain. Hal lain yang bikin puasnya lagi adalah tempat masaknya itu keliatan banget sama pengunjung, kita bener-bener bisa liat langsung peralatan masaknya, gimana mereka masaknya, dan jumlah dagingnya yang seabrek-abrek. Nggak heran sih kenapa tempat ini selalu banjir pengunjung tiap harinya.

Posisi warung makan ini dipinggir jalan sebelum perkomplekan gitu, which is sangat strategis, mudah untuk ditemukan. Tempatnya yang luas banget dan bersih bikin gue betah makan disini. Cuma mereka nggak sedia musholla sih, tapi ya gak masalah buat gue karena posisinya deket banget sama rumah temen gue, jadi bisa numpang di tempat dia hahaha. Tapi harganya cukup menguras kantong juga sih, 1 porsi itu 18k, makanya jangan heran kalau liat pengunjungnya rata-rata bawa mobil semua. Eh tapi jangan salah kira ya, ini bukan resto loh, ini warung, bener-bener warung pinggiran jalan gitu. Tapi ya kan ada kualitas ada harga, berarti ada kasta pembeli juga gak sih? hahaha.

5. IKEA

Gue sebenernya baru sekali kesini, lebaran tahun lalu, dan gue langsung suka. Tempatnya nyaman, luas dan bersih. Sistem pelayanannya self-service which is point plus. Lagi-lagi self-service ya hahaha. Entah kenapa gue memang suka dengan sistem pelayanan yang seperti itu karena artinya begitu kita nemu tempat kosong ya bisa langsung ditempatin, sedangkan kalau resto yang full-service itu kebanyakan suka pelayan suka lama membersihkan meja yang sudah kosong, jadi lama juga kita dapet tempat duduknya.

Untuk makanan disini worth to try banget sih. Harga tentu selaras dengan makanan. Gue lupa pesan apa aja waktu itu, tapi karena gue makan bareng kakak dan juga adek gue, jadilah gue pesen banyak. Biasalah rumus standar orang yang makan bareng-bareng: tiap orang pesen menu yang beda biar bisa cicip banyak menu hahaha. Yang gue inget gue pesen swedish meatball, fish & chips, sausage, chocolate cake, chocolate mousse, terus tuna apa gitu lupa. Fish & chips-nya juara sih, swedish meatball-nya pun sama. Feel so lucky gue doyan si swedish meatball-nya ini, karena ternyata banyak orang lokal yang kurang atau bahkan nggak suka dengan lingoberry sauce-nya itu. Ah nggak sabar mau kesana lagi!

Oke, rasanya segitu aja ya review 5 tempat makan favorit ala gue. Semoga ada yang sependapat dengan gue, kalau nggak, ya yaudah selera orang memang beda-beda.

Apakah gue sering berkunjung ke 5 tempat makan tersebut? hahaha tentu tidak, Esmeralda. Saya masih berada di urutan manusia yang nangis kalau harus menghabiskan uang dengan terus-terusan jajan. Harus hemat. Hidup hemat.



19.25 PM, ngetik sambil menahan sakit PMS.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s